Lebaran, the moment!

Lebaran kali ini sudah terasa beda. Setelah resmi menjadi anak perantauan, sekarang dan pertamakalinya saya merasakan yang namanya mudik. Pertamakalinya saya merasakan kesusahan mencari tiket pulang dan segera menguras tabungan. Eniwei, kakak saya sudah mendarat terlebih dahulu di rumah Bendul Merisi Permai, dan saya adalah the last one. Biasanya saya adalah yang pertama menjadi tuan rumah menyambut kakak-kakak saya dan kali ini saya lah yang disambut.

Ternyata ada perbedaan yang luar biasa, ketika lebaran dari anak kota menjadi anak perantauan. Perasaan ingin segera bertemu dan berkumpul dalam 1 momen adalah yang ditunggu-tunggu. Bahkan sekarangpun saya harus menyiapkan barang-barang seperti oleh-oleh atau angpau buat keponakan saya. Beda halnya ketika saya belum merantau, hari-hari lebaran ya sama seperti hari biasa dan menyiapkan makanan buat tetamu yang datang ke rumah.

Lebaran ini juga menjadi jembatan istirahat sebelum akhirnya saya harus kembali ke Semarang mengerjakan Telahaan Staf Saya. Pada akhirnya kalau CEO perusahaan saya sangat begitu optimis, Saya dan rekan-rekan APD Semarang mestinya harus sama optimisnya seperti Pak CEO. Libur 5 hari harus dimanfaatkan betul dan segera setelah itu kami harus bersemangat dan kerja keras, karena kami ingin menjadi Perusahaan Kelas Dunia.

Dan Sayapun sudah 2 bulan tidak pulang, bukan karena tidak ingin, tapi kejadian sakit Demam Berdarah menghalangi saya sementara waktu untuk pulang. Sungguh saya ingin segera ke Surabaya 🙂

CEO Note PLN, Dahlan Iskan

Ya KITA BISA! PASTI BISA !!

Saya merasakan wabah semangat kini melanda jajaran PLN di seluruh Indonesia. Semangat untuk bangkit dan semangat untuk mandiri berkibar tinggi. Teman-teman kita nun di Cabang Sibolga pun menemukan jalan terangnya sendiri. Di sana wilayahnya terbagi dalam dua tipe : pegunungan yang jarang pelanggannya dan perkotaan yang padat penduduknya. Yang di pegunungan itu penyulangnya panjang-panjang karena desanya saling berjauhan. Pohonnya juga sering tumbang menganggu jaringan kita. Hujan, angin dan petir menjadi setan utama yang mengganggu tidur kita. Celakanya, gangguan di daerah yang penduduknya jarang ini menyebabkan listrik di perkotaan yang padat ikut terganggu. Yang sedikit mencelakakan yang banyak.

Kris Cahyono, Kepala Cabang Sibolga, tentu tidak terima dengan kenyataan seperti itu. Maka dia pisahkan wilayah pegunungan dan perkotaan itu dengan recloser. Dengan demikian kalau ada pohon tumbang di gunung, listrik di kota seperti Tarutung tidak ikut mati. Cara ini sangat sukses untuk menekan tingkat gangguan. Karena itu dia menjadi pe-de untuk menciptakan jargon sendiri dalam bahasa Batak. Dia memang kepingin mengadopsi jargon dari wilayah Jatim “ojo byar-pet, yen pet, cepetl” itu (apalagi dia memang berasal dari Sidoarjo), tapi dia pikir orang Sibolga harus punya caranya sendiri.

Lalu di depan forum untuk menyambut rombongan saya yang tiba di Tarutung pekan lalu, dia menayangkan jargon ini : Udan Alogo, Boasa Ingkon Mabiar! Semula saya mengira artinya mirip “ojo byar-pet, yen pet cepetl” itu. Ternyata beda sama sekali. Saya tidak bisa merasakan apakah jargon itu cukup puitik atau tidak. Yang penting, bagi saya, sikap kemandiriannya sangat terasa.

Tapi masih ada satu hal yang mengganjal pikirannya. Dia kepingin tahu di mana cabang yang telah mempraktekkan membungkus penyulang dengan selang plastik itu. Atau yang membungkus penyulang dengan pipa paralon itu. Tentu saya jelaskan dengan bangga bahwa teman-teman di Distribusi Jateng-Iah yang pernah bercerita kepada saya soal pemakaian selang plastik untuk membungkus kabel yang melewati pepohonan itu. Atau teman di Distribusi Jabar-Iah yang sudah mempraktekkan penggunaan pipa paralon itu.
Semangat ternyata bisa cepat merata.

Continue reading