Oleh Oleh dari Diklat Manajemen Asset 20kV

5 hari Diklat Manajemen Asset 20kV dan Kubikel membawa banyak sekali informasi yang saya dapat. Tadinya saya kira diklatnya ada di Udiklat Pandaan namun ternyata diklatnya dipindah di suatu hotel di Tretes, Prigen , Pasuruan. Letaknya diapit oleh kaki gunung Arjuno – Welirang. Yang lebih bahagia lagi ternyata yang mengajar adalah bekas manajer saya, Pak Tjatur Endiek. Beliau ini dianggap sebagai bapak yang membangun atau bisa dikatakanlah merintis APD Jawa Tengah & DI Yogyakarta dimana waktu itu keadaan APD benar-benar kantornya seperti layaknya gudang dan sama sekali tidak layak dibilang sebagai kantor. Lewat transformasi beliau selama 4 tahun lah, APD mulai banyak bicara di Jawa Tengah & DI Yogyakarta.

Beliau mengajarkan betapa pentingnya manajemen asset dalam suatu perusahaan. Di PLN, pada sisi hulu (pembangkitan) penerapan Manajemen Asset sudah sangat teratur dan rapi sementara di sisi penyaluran (transmisi) mulai berbenah dengan mulai penerapan EAM (Enterprise Asset Management) sementara, bidang distribusi baru memulai hal tersebut. Padahal kenyataannya ujung tombak duit perusahaan ini ada bidang Hilir (distribusi) sehingga bila sisi distribusi terlambat menerapkan EAM, bayangkan betapa tidak efisiensinya perusahaan ini.

Kenapa kita perlu bicara EAM sebagai alat yang perlu dalam suatu perusahaan? Secara gamblangnya begini, bila suatu perusahaan tidak mengerti kondisi kekinian asset-nya, bagaimana mungkin bisa menerapkan rencana pemeliharaan, perawatan serta perbaikan yang ujung-ujungnya dapat menghemat uang perusahaan. Bisa saja, bila suatu alat tersebut rusak kemudian diganti, kas perusahaan hanya sedikit tersenggol untuk penggantian tetapi bisa dibayangkan kalau satu Indonesia ini semua peralatan semua, perusahaan bisa kehilangan pendapatan pada kesempatan pertama serta waktu penggantian yang tidak sedikit. Inilah mengapa pentingnya kenapa Manajemen Asset dalam suatu perusahaan.

Pada sisi distribusi, sisi kesulitan penerapan EAM adalah banyaknya alat yang harus diinvetarisir. Contoh yang sangat mudah adalah invetarisir jumlah trafo distribusi. Berapa ribu yang harus diinvetarisir jumlah tersebut? Itu baru hanya jumlah, bayangkan kalau menambah variabel-variabel seperti suhu, beban, tahanan dan lain-lain itu sangat membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Itu baru trafo saja, bayangkana kalau harus menginvetarisir juga FCO (fuse cut out) , Arrester, Tiang listrik , kubikel 20 kV , jaringan tegangan menengah, LBS , Recloser sampai dan bahkan kWH meter (baik pasca maupun prabayar). Inilah tantangan dari kawan-kawan distribusi yang harus dikerjakan.

Di bidang transmisi dan pembangkit, sudah ada aplikasi yang menyediakan aplikasi EAM (saya lupa namanya) dengan investasi yang tidak sedikit untuk membangun aplikasi tersebut (kabarnya sampai sekian M) , itulah kenapa EAM sangat mahal harganya. Pada pembangkit, dengan menggunakan aplikasi tersebut, sudah dapat diprediksi jadwal pemeliharaan untuk tahun depan, tahun depannya lagi bahkan prediksi alat yang akan rusak. WOW luar biasa!, Dengan begitu pembangkit pun bisa terjadwal kapan harus padam.

Kawan-kawan distribusi juga tidak boleh kalah harusnya. Distribusi yang menjadi sumber duit perusahaan ini harusnya lebih efisien bergerak daripada kawan-kawan di pembangkit. Kenapa seperti itu? Di bidang distribusi sudah terbentuk rayon-rayon sehingga unit organisasinya lebih modular ketimbang di pembangkit yang kumpul jadi satu. Namun yang membuat kita lengah dengan kurang memikirkan efisiensi adalah kawan-kawan distribusi terlalu sibuk mengurusi kegiatan harian / operasional sehingga yang terjadi hanyalah kegiatan rutinitas yang terjadi.

Jelas EAM membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit untuk bidang distribusi. Yang harus dimulai oleh kawan-kawan distribusi adalah mulai inventarisir asset mereka , itu saja dulu sepertinya. Karena tidak mudah untuk mulai asset-asset kecil namun banyaknya luar biasa. Setidaknya bila mulai invetarisir trafo, kawan-kawan distribusi sudah dapat mengetahui berapa trafo yang harus dibeli untuk tahun berikutnya. Berapa trafo yang harus direkondisi tahun ini, yang harus dipelihara , harus diganti dan sebagainya.

Salah satu yang sudah dimulai oleh kawan-kawan distribusi adalah dimulainya implementasi aplikasi E-Map di Jawa Bali. Ini penting, dengan adanya aplikasi E-Map, paling tidak bila penerapannya konsisten adalah SAIDI-SAIFI mendekati akurat. Karena adanya aplikasi E-Map, program pemetaan jaringan lebih jelas, lebih terlihat. Beban per-section terlihat, jenis trafo dalam pelanggan tersebut, jaringan apa saja yang berada disitu, (A3C atau A3CS dsb) atau berapa section yang ada dalam jaringan tersebut. Salah satu keunggulan E-Map paling tidak membantu untuk pemetaan susut (losses) dengan diketahuinya ketidakseimbangan beban dalam jaringan tersebut.

Apa yang bisa kita lakukan dalam bidang SCADA ?

Sama saja, mulailah invetarisir asset. Asset apa saja yang SCADA punya. SCADA mungkin lebih terlihat supporting sistem untuk distribusi. Namun kalau benar-benar kehandalannya terlihat, apapun menjadi ketergantungan dengan SCADA. Ada beberapa rekan Area yang belum mulai mengoperasikan jaringannya bila SCADA-nya belum siap. Nah ini kesempatan yang bagus untuk bidang SCADA menonjolkan dirinya bahwa mereka sudah membutuhkan APD.

Bagaimanapun juga SCADA adalah tulang punggung operasi distribusi. Siapa juga yang mau terus-terusan menggunakan sistem manual yang harus didatangi peralatannya. Sayangnya SCADA belum mampu menjawab tantangan tersebut. Untuk mengetahui berapa penyulang yang sudah terintegrasi masih harus cari sana – sini, berapa penyulang yang memakai SCADA ROPO / Survalent masih harus diinventarisir. Padahal itu adalah dasar untuk menjawab tantangan kedepan.

Bagaimana harus merencanakan asset pemeliharaan  atau rencana integrasi kedepan kalau data tersebut masih ruwet sana sini. Padahal sebenarnya dibandingkan kawan-kawan Area, Asset SCADA sepintas tidak terlalu banyak diinventarisir dibandingkan kawan-kawan Area yang berada di Jaringan. Kalau pola seperti ini terus dipertahankan, bukan tidak mungkin pola-pola pemeliharaan akan menjadi sembrono dan tidak tertata. Ini jelas tidak bagus, dengan perencanaan yang bagus dan tertata, hasil kerja kawan-kawan jelas terlihat bukan asal bos senang atau asal SIMKP tercapai.

Pentingnya EAM ini harus dimulai dari mindset dari kawan-kawan sendiri. Bagaimana sense of belonging (rasa kepemilikan) kawan-kawan terhadap alat yang diberi oleh PLN. Saya meyakini kalau sense of belonging itu sudah ada, tidur berbulan-bulan dengan peralatan tersebut juga tidak masalah. Hehehe bercanda. Sense of belonging dimulai dengan menjaga asset yang diberi / diamanahi oleh perusahaan. Sederhana saja mulainya, mulailah inventarisir!

Saya yakin dengan mulai inventarisir, paling tidak 10% prediksi gangguan sudah ketahuan dan kawan-kawan pasti sudah mulai membuat rencana jadwal perbaikan. Betul tidak? Memang tidak mudah, namun kalau tidak memulainya pasti jauh lebih sulit. Saya yakin kawan-kawan yang masuk PLN ini sudah pintar-pintar. Lulusan terbaik dari seluruh universitas terbaik berada disini, jadi kurang apalagi seharusnya dari perusahaan ini?

Beruntungnya saya waktu diklat kemarin bertemu dengan orang-orang pintar, walaupun sudah sepuh-sepuh kebanyakan namun mengagumkan sekali pengalamannya. Inilah kawan-kawan yang masih muda harus mengambil pengalamannya. Kawan-kawan yang sepuh pun juga jangan segan membagi ilmu, kenapa? Karena yang membiayai pensiunan kawan-kawan yang sepuh juga dari kawan-kawan yang muda. Inilah pesan Pak Tjatur kemarin.

Ayo, mulailah jangan bersikap pesimis dengan perusahaan ini. Setidaknya masih banyak orang baik, hal-hal baik, pekerjaan yang baik yang masih perusahaan ini sanggup berikan atau setidaknya anda-lah yang memulai dulu dengan menyebar banyak kebaikan.

CEO Note – Dahlan Iskan – 10 Oktober 2011

Agar Ayam Tidak Tercekik di Lumbung Padi

Transmisi 500kV

Cap “listrik mati di lumbung energi” sudah lama melekat di lima propinsi ini:  Riau, Sumsel, Kalsel, Kalteng dan Kaltim. Lebih 15 tahun krisis listrik melanda mereka. Padahal batubara dari lima propinsi itulah yang membuat kota-kota besar dunia seperti Singapura dan Hongkong terang-benderang.

Yang seperti itu tentu tidak boleh berlanjut lebih lama lagi. Akhir tahun ini Sumsel sudah bisa men- delete cap negatif  itu. Bulan lalu unit 1 PLTU batubara di dekat Prabumulih, sudah menghasilkan listrik 115 MW. Bulan depan unit 2-nya menyusul beroperasi.

Belum lagi yang bertenaga gas. Dalam tiga bulan ke depan Sumsel akan dapat tambahan 200 MW dari gas setempat. Dalam tahun ini secara total Sumsel dapat tambahan hampir 500 MW. Maka mulai Januari nanti, cap “listrik mati di lumbung energi” mesti sudah berubah menjadi “Si lumbung energi mulai berbagi rejeki”. Maksudnya, Sumsel akan membagi kelebihan listriknya ke Riau dan Bengkulu melalui transmisi Pagar Alam-Kiliranjau-Payakumbuh-Pekanbaru. Continue reading

CEO Note PLN, Dahlan Iskan

Ya KITA BISA! PASTI BISA !!

Saya merasakan wabah semangat kini melanda jajaran PLN di seluruh Indonesia. Semangat untuk bangkit dan semangat untuk mandiri berkibar tinggi. Teman-teman kita nun di Cabang Sibolga pun menemukan jalan terangnya sendiri. Di sana wilayahnya terbagi dalam dua tipe : pegunungan yang jarang pelanggannya dan perkotaan yang padat penduduknya. Yang di pegunungan itu penyulangnya panjang-panjang karena desanya saling berjauhan. Pohonnya juga sering tumbang menganggu jaringan kita. Hujan, angin dan petir menjadi setan utama yang mengganggu tidur kita. Celakanya, gangguan di daerah yang penduduknya jarang ini menyebabkan listrik di perkotaan yang padat ikut terganggu. Yang sedikit mencelakakan yang banyak.

Kris Cahyono, Kepala Cabang Sibolga, tentu tidak terima dengan kenyataan seperti itu. Maka dia pisahkan wilayah pegunungan dan perkotaan itu dengan recloser. Dengan demikian kalau ada pohon tumbang di gunung, listrik di kota seperti Tarutung tidak ikut mati. Cara ini sangat sukses untuk menekan tingkat gangguan. Karena itu dia menjadi pe-de untuk menciptakan jargon sendiri dalam bahasa Batak. Dia memang kepingin mengadopsi jargon dari wilayah Jatim “ojo byar-pet, yen pet, cepetl” itu (apalagi dia memang berasal dari Sidoarjo), tapi dia pikir orang Sibolga harus punya caranya sendiri.

Lalu di depan forum untuk menyambut rombongan saya yang tiba di Tarutung pekan lalu, dia menayangkan jargon ini : Udan Alogo, Boasa Ingkon Mabiar! Semula saya mengira artinya mirip “ojo byar-pet, yen pet cepetl” itu. Ternyata beda sama sekali. Saya tidak bisa merasakan apakah jargon itu cukup puitik atau tidak. Yang penting, bagi saya, sikap kemandiriannya sangat terasa.

Tapi masih ada satu hal yang mengganjal pikirannya. Dia kepingin tahu di mana cabang yang telah mempraktekkan membungkus penyulang dengan selang plastik itu. Atau yang membungkus penyulang dengan pipa paralon itu. Tentu saya jelaskan dengan bangga bahwa teman-teman di Distribusi Jateng-Iah yang pernah bercerita kepada saya soal pemakaian selang plastik untuk membungkus kabel yang melewati pepohonan itu. Atau teman di Distribusi Jabar-Iah yang sudah mempraktekkan penggunaan pipa paralon itu.
Semangat ternyata bisa cepat merata.

Continue reading